Rubby University Blog
Minggu, 05 Oktober 2014
Pertemuan ke X ( eksistensialisme)
Eksistensialisme
Ex => keluar
Sintesia (Sistere) => Bediri
*Manusia baru menemukan diri sebagai aku jika keluar dari dirinya sendiri.
Arti secara filsafat:
Beberapa tokoh yang menganut gaya eksistensialisme:
-Kierkegaard
-Edmund Husserl
-Martin Heidegger
-Gabriel Maecel
-Jean paul Sartre
Ada 1 hal yang sama dari para tokoh => Filsafat bertitik tolak pada manusia konkrit.
*Eksistensi mendahului Esensi (Hakikat)
Ciri-ciri eksistensialisme:
- Motif pokok adalah eksistensi
- Bereksistensi harus diartikan secara dinamis (Segala aktivitas; berfikir; merencanakan;membuat ; menjadi;dkk)
- Manusia dipandang terbuka, belum selesai. (Manusa selalu penuh misteri).
cnth: manusia yang hari ini berbeda dengan manusia yang besok (belum berhenti).
- Manusia terikat pada dnuia sekitar
-Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.
Siapa Kierkegaard
-Seorang keturunan Denmark; belajar teologi namun tidak selesai
-Mengalami krisiss saat 3 saudara; ayah & ibu meninggal.
-Sempat menjauh dari teman-temannya & agama.
-1849 kembali ke agamanya.
-Ia meninggal tahun 1855
-Dikenal sebagai bapa eksistensialisne (50 tahun setelah kematiannya).
Pokok-pokok ajaran Kierkegaard:
-Mengkritik Hegel (Menurut Kierkeggard memandang bahwa Hegel adalah
pemimpin besar; tapi Hegel
melupakan eksistensialisme manusia. Karna adanya dialektika.)
-Yang ada adalah manusia Konkret yang semua penting, berbeda, &
berdiri dihadapan Tuhan. Manusa itu eksistensi
-Eksistensi pada Kierkegaard ( Merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, & mempraktekannya.)
-Hanya manusia yang bereksistensi (Menjadi dalam waktu seperti ia akan ada ).
Wktu & keabadian
Setiapa orang adalah campuran dari keterhinggaan
&ketakterhinggaan.(Manusia bergerak menuju Allah. "Saat" adalah
titik dimana waktu & keabadian bersatu.
-Eksistensi manusia bukan hanya sekedar suatu fakta tapi lebih dari tu.
-Eksistensi manusia adalah tugas yang harus di jal
Seseorang menyelam dalam keramaian( sehingga tidak dapat berestensi). melaikan harus berpegang pada individu.
Publik & Individu
manusa haru berani ngomong saat hanya dirinya sendiri bukan saat publik / rame".
Publik itu bukan realitias, hanya abstrakis belaka.
Orang sering berusaha menggabungkan diri dalam kelompkok dengan mengumpulkan tanda tangan.
(hanya orang lemah mengandalkan diri pada kekuatan numerik.)
Siapa Jean Paul Sartre?
Jean Paul Sartre
-Lahir di paris 16 July 1905
-tahun 1929 menjadi guru.
-tahun 1931-1936 dosen filsafat di le Havre
-tahun 1941 menjadi tawanan perang. (Eksistensialisme yang mempengaruhi kebebasan)
-tahun 1942-1944 menjadi doesen Loycee pasteur
-Seorang yang banyak menulis karya filsafat & sastra. (dipengaruhi oleh hesserl & heidegger).
Pemikiran-pemikiran Sartre:
-Sulit untuk menjabarkan karna kurang sitematis.
-Bagi sartre, manusia mengada dengan kesadaran sebagai diri sendiri.
-Keberadaan manusia mendahului esensi dalam diri kita.
*Dibedakan menjadi "berada dalam diri" & "Berada untuk diri"
-Berada dalam diri=> Berada dalam dirinya sendiri. (segala yang ada dalam diri memuakan).
-Berada untuk diri=> Berada yang dengan sadar akan dirinya (cita-cita manusia).
-Asas pertama untuk mengenal manusia adalah dengan mendekati subjektivitasnya.
Ada beberapa hal yang mengurangi Kebbebasan manusia:
- Tempat kita berada: situasi yg memberi struktur pd kita, tp juga kita beri struktur.
- Masa lalu: tdk mungkin meniadakannya krn masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
- Lingkungan sekitar (Umwelt):
- Kenyataan adanya sesama manusia dg eksistensinya sendiri.
- Maut: tdk bisa ditunggu saat tibanya, walaupun pasti akan tiba.
Pertemuan ke VIII ( Manusia & Afektivitas nya.. Kebebasan.)
Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia
-Yg membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya => afektivitasnya.
-Afektivitas => membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dg org lain.
-Afektifitas => mendorong org utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
Cara hadir kita di dunia diperdalam => afektivitas.
Bagaimana disposisi afektif dasariah si subyek terhadap obyeknya
Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain,mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling darinya (menganggapnya buruk).
Cinta => buah afektivitas positif,
Benci => buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.
Sikap yang di ambil Avektivitas (Berhadapan dengan objek):
Jika terhadap obyek yg dianggap berguna => subyek mencintainya (cinta utilitaris/bermanfaat).
Sifat subjek dapat ditentukan secara afektif oleh objeknya. (di bedakan dengan perasaan & emosi):
Keadaan afektif yg berbeda-beda => ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).
Suasana hati => dapat mempengaruhi.
yang erupakan perbuatan Afektif:
Kondisi afektivitas manusia:
-Agar ada afektivitas (perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek).
Kebebasan
Kebebasan
Sebagai bagian dari eksistensial manusia( hdup di ruang dan waktu).
-Arti umum ( Konteks negatif) : tidak ada paksaan; tidak ada hambatan & tdk ada halangan.
-Arti khusus (Kebebasan eksistensial) : Selalu berusaha menjadi baik (Teori Whitehead). Bebas menentukan bagi diri sendiri; mampu mengungkap ke eksistensialannya.
Jiwa dan kebenaran
Perdebatan tentang kebebasan sudah sangat lama.
-Keberadaan atau eksistensi jiwa dalam Tubuh, membantu memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia ,beserta perbuatannya.
(Karna ada jiwa di dalam tubuh yang membantu dan menggerakan ,merasakan,dll).
-Dalam fungsi menentukan perbuatan ;jiwa berhubungan dengan kehendak bebas.(Adanya unsur bebas di dalamnya => sehingga prilaku adalah titik temu antara pengaruh dan tekanan).
Teori Erich Fromm => Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan.
(Artinya ada beberapa hal yang menyebabkan manusia tidak bebas).
Pandangan Determinisme:
Determinisme => Aliran yang menolak kebebasa sebagai kenyataan hidup bagi manusia (stiap kejadian di sebabkan karna peristiwa lain. bukan karna manusiannya).
Alasan Determinisme:
- karna adanya determinisme biologis(kebebasan di batasi oleh biologis kita)
- Karna adalnya determinisme psikologis
- Karna adalnya determinisme sosial
- Karna adalnya determinisme teologis
Jenis-jeniskebebasan:
- Kebebasan horizontal => Berkaitan dengan kesenangan, dan bersikap spontan.
- Kebabasan vertikal => Moral, pertimbangan tujuan, tingkat nilai.
- Kebabasan Eksistensial ( bersifat positif) => Punya harkat dan martabat, punya kebebasan memilih
Sejarah perkembangan masalah Kebebasan:
Era Abad Pertengahan:
-Sejak zaman yunani tidak memberikan jawaban. (karna di yunani kuno banyak mitor-mitos. semua hal berada di bawah nasib menurut mreka).
- Menurut Yunani manusia adalah bagian dari alam.
(Filsuf prtmana Yunani adalah Tales " apakah hakikat terdalam/Atau dasar dari alam ini?".).
- Manusia terpengaruh dengan hal yg bersikap cycle.
Era modern:
-Bersfifat perpektif teosentrik ( digantikan dengan prepektif antroposentrik.
Era sekarang:
-Di permasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan menurut pemikiran Timur:
-Cenderung melihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik & dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri...
-Yg membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya => afektivitasnya.
-Afektivitas => membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dg org lain.
-Afektifitas => mendorong org utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
Cara hadir kita di dunia diperdalam => afektivitas.
Bagaimana disposisi afektif dasariah si subyek terhadap obyeknya
Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain,mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling darinya (menganggapnya buruk).
Cinta => buah afektivitas positif,
Benci => buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.
Sikap yang di ambil Avektivitas (Berhadapan dengan objek):
Jika terhadap obyek yg dianggap berguna => subyek mencintainya (cinta utilitaris/bermanfaat).
Sifat subjek dapat ditentukan secara afektif oleh objeknya. (di bedakan dengan perasaan & emosi):
Keadaan afektif yg berbeda-beda => ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).
Suasana hati => dapat mempengaruhi.
yang erupakan perbuatan Afektif:
-Hidup
afektif /afektivitas=> seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek
sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.
-Perbuatan afektif sedikit mirip dg ‘perbuatan mengenal’ (dianggap perbuatan vital/imanen). Tapi ada perbedaan =>perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.
Kondisi afektivitas manusia:
-Agar ada afektivitas (perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek).
Kebebasan
Kebebasan
Sebagai bagian dari eksistensial manusia( hdup di ruang dan waktu).
-Arti umum ( Konteks negatif) : tidak ada paksaan; tidak ada hambatan & tdk ada halangan.
-Arti khusus (Kebebasan eksistensial) : Selalu berusaha menjadi baik (Teori Whitehead). Bebas menentukan bagi diri sendiri; mampu mengungkap ke eksistensialannya.
Jiwa dan kebenaran
Perdebatan tentang kebebasan sudah sangat lama.
-Keberadaan atau eksistensi jiwa dalam Tubuh, membantu memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia ,beserta perbuatannya.
(Karna ada jiwa di dalam tubuh yang membantu dan menggerakan ,merasakan,dll).
-Dalam fungsi menentukan perbuatan ;jiwa berhubungan dengan kehendak bebas.(Adanya unsur bebas di dalamnya => sehingga prilaku adalah titik temu antara pengaruh dan tekanan).
Teori Erich Fromm => Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan.
(Artinya ada beberapa hal yang menyebabkan manusia tidak bebas).
Pandangan Determinisme:
Determinisme => Aliran yang menolak kebebasa sebagai kenyataan hidup bagi manusia (stiap kejadian di sebabkan karna peristiwa lain. bukan karna manusiannya).
Alasan Determinisme:
- karna adanya determinisme biologis(kebebasan di batasi oleh biologis kita)
- Karna adalnya determinisme psikologis
- Karna adalnya determinisme sosial
- Karna adalnya determinisme teologis
Jenis-jeniskebebasan:
- Kebebasan horizontal => Berkaitan dengan kesenangan, dan bersikap spontan.
- Kebabasan vertikal => Moral, pertimbangan tujuan, tingkat nilai.
- Kebabasan Eksistensial ( bersifat positif) => Punya harkat dan martabat, punya kebebasan memilih
Sejarah perkembangan masalah Kebebasan:
Era Abad Pertengahan:
-Sejak zaman yunani tidak memberikan jawaban. (karna di yunani kuno banyak mitor-mitos. semua hal berada di bawah nasib menurut mreka).
- Menurut Yunani manusia adalah bagian dari alam.
(Filsuf prtmana Yunani adalah Tales " apakah hakikat terdalam/Atau dasar dari alam ini?".).
- Manusia terpengaruh dengan hal yg bersikap cycle.
Era modern:
-Bersfifat perpektif teosentrik ( digantikan dengan prepektif antroposentrik.
Era sekarang:
-Di permasalahkan dari sudut pandang sosial
Kebebasan menurut pemikiran Timur:
-Cenderung melihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik & dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri...
pertemuan ke VII ( JIWA & BADAN)
Badan & Jiwa
-Satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.( Keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.)
2 aliran:
*monoisme => Mono (1)
-meilaht tubuh & jiwa satu kesatuan.
*Dualisme
-melihat Tubuh dan jiwa berbeda.
Pengetian lebih detail:
Monoisme => Aliran yang melihat tubuh & jiwa sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Punya 3 macam variable:
-Materialisme => Materi& benda sebagai dasar segala hal yang ada ; Jiwa tidak punya esistensi (Fisikalisme) (butuh badan untuk membantu).
- Identitas => Menekankan hal berbeda dari materialisme ; tapi mengekui aktivitas mental. (Perbedaan jiwa & raga hanya pada artinya, tapi 2 elemen yang sama).
- Idealisme => Ada unsur-unsur yang idak dapat di helaskan secara materialisme (Nilai & makna ; pengetahuan) menjadi dasar bagi descartes <corgito ergosum>
Dualisme => Aliran yang melihat badan& jiwa adalah 2 hal yang berbeda.
Pandangan MONOISME bertentangan dengan hakikat manusia.
-plato => * Badan sifat sementara.
* Jiwa sifat abadi.
Kelemahan matereliasme => tidak bisa melihat pengalaman secara personal.
Badan Manusia:
-Badan => Elemen dasar dalam mebnetuk pribadi manusia.
Menurut pandangan traditional :
Badan => kumpulan bernagai etinitas material ang membentuk manusia(bersifat mekanis).
Jiwa Manusia:
badan tidak memiliki apa-apa tanpa jiwa.
Pandangan Tradisional
Jiwa => Mahluk halus; Karna tidak dapat di tangkap oleh indra.
(Harus Dipahami sebagai kompleksitas dalam kegiatan mental).
Menurut Agustinus : Manusia hanya bisa melakukan penilaian karna dorongan dari jiwa.
-Satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.( Keduanya membentuk keutuhan pribadi manusia.)
2 aliran:
*monoisme => Mono (1)
-meilaht tubuh & jiwa satu kesatuan.
*Dualisme
-melihat Tubuh dan jiwa berbeda.
Pengetian lebih detail:
Monoisme => Aliran yang melihat tubuh & jiwa sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Punya 3 macam variable:
-Materialisme => Materi& benda sebagai dasar segala hal yang ada ; Jiwa tidak punya esistensi (Fisikalisme) (butuh badan untuk membantu).
- Identitas => Menekankan hal berbeda dari materialisme ; tapi mengekui aktivitas mental. (Perbedaan jiwa & raga hanya pada artinya, tapi 2 elemen yang sama).
- Idealisme => Ada unsur-unsur yang idak dapat di helaskan secara materialisme (Nilai & makna ; pengetahuan) menjadi dasar bagi descartes <corgito ergosum>
Dualisme => Aliran yang melihat badan& jiwa adalah 2 hal yang berbeda.
Pandangan MONOISME bertentangan dengan hakikat manusia.
-plato => * Badan sifat sementara.
* Jiwa sifat abadi.
Kelemahan matereliasme => tidak bisa melihat pengalaman secara personal.
Badan Manusia:
-Badan => Elemen dasar dalam mebnetuk pribadi manusia.
Menurut pandangan traditional :
Badan => kumpulan bernagai etinitas material ang membentuk manusia(bersifat mekanis).
Jiwa Manusia:
badan tidak memiliki apa-apa tanpa jiwa.
Pandangan Tradisional
Jiwa => Mahluk halus; Karna tidak dapat di tangkap oleh indra.
(Harus Dipahami sebagai kompleksitas dalam kegiatan mental).
Menurut Agustinus : Manusia hanya bisa melakukan penilaian karna dorongan dari jiwa.
Kamis, 02 Oktober 2014
pertemuan ke VI ( Filsafat manusia)
Bagian filsafat yang mengupas apa
arti manusia/menyoroti hakikat atau esensi manusia
Memikirkan tentang asal-usul
kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of
human life), dan realitas eksistensi manusia
Hasrat untuk tahu siapa dan apakah
manusia.
Maka, filsafat manusia menanyakan
pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban
bagi diri sendiri.
Manfaat belajar Filsafat manusia adalah:
} Manusia adalah makhluk yang mampu
dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”
} Manusia bertanggung jawab terhadap
dirinya sendiri.
◦
Boleh
saja tidak harus tahu segala hal, tapi sekurang-kurangnya harus mengenal dan
mengerti diri sendiri secara mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.
Metode Filsafat Manusia:
¡ Sebagai bagian dari filsafat, cara
kerja filsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya
¡ Yaitu: refleksi, analisa
transendental dan sintesa
¡ Juga: ekstensif, intensif dan kritis
Objek Filsafat Manusia:
¡ Objek material: manusia
¡ Objek formal: esensi manusia,
strukturnya yang fundamental
Struktur
fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur
dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui
melalui daya pikir, bukan penginderaan
Kata Max
Scheler dan Heidegger:
Tak ada
zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya
sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di
tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu
tentang dirinya dan tentang identitasnya
Kata
A. Heschel tentang filsafat manusia dalam “Who is man?” Stanford University
Press, 1965
¡ “filsafat mempunyai perhatian
terhadap manusia dalam totalitasnya, bukan dalam aspek ini atau itu. setiap
ilmu terspesialisasi (antropologi, linguistik, fisiologi, kedokteran,
psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik), betapapun kerasnya usaha mereka,
mereka tetap membatasi totalitas dari individu dengan memandangnya dari segi
salah satu fungsi, atau dari dorongan tertentu. Pengetahuan kita tentang
manusia terpecah-pecah: kerapkali kita menggantikan keseluruhan dengan salah
satu bagian. Kita berusaha menghindari kesalahan itu”
¡ Kekaguman
¡ Ketakjuban
¡ Frustrasi
¡ Delusi
¡ Pengalaman negatif
“aku
menjadi masalah besar bagi diriku” kata Augustinus yang sedih karena kematian
temannya
“karena
kita adalah manusia yang akan mati…kita tidak akan puas dengan perubahan
formasi sosial melulu, tetapi kita ingin mengetahui persoalan pribadi” (Adam
Schaft)
Refleksi
filosofis tentang manusia dapat tumbuh dari pengalaman akan kehampaan,
alienasi, rutinitas, dan absurditas
sebagaimana digambarkan oleh Albert Camus
Apa saja yang dibahas dalam filsafat manusia?
¡ Mencari kekhasan manusia
¡ Manusia sebagai “ada-di-dunia”
¡ Evolusi
¡ Antarsubyektivitas (sosialitas
manusia)
¡ Manusia sebagai eksistensi bertubuh
¡ Transendensi
¡ Manusia sebagai roh
¡ Pengetahuan manusia
¡ Kebebasan
¡ Kesejarahan/historisitas
¡ kebudayaan, sains dan teknologi
¡ Dimensi antropologis dari pekerjaan
¡ Manusia sebagai pribadi/persona
¡ Kematian dan harapan
Pertemuaan ke V Etika dan Moral
• ETIKA berasal dari bahasa Yunani yaitu “ETHOS”
yang memiliki arti kebiasaan.
• Istilah Moral dan Etika sering
diperlakukan sebagai dua istilah yang sinonim.
• Hal-hal yang perlu diperhatikan
adanya suatu nuansa dalam konsep dan pengertian moral dan etika :
Moral/Moralitas
biasanya dikaitkan dengan system nilai tentang bagaimana kita harus hidup
secara baik sebagai manusia
• Sistem nilai ini terkandung dalam
ajaran berbentuk :Petuah-petuah, nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan
semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan
tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar
menjadi manusia yang baik.
Nilai
adalah sesuatu yang berguna bagi seseorang atau kelompok orang dan karena itu
orang atau kelompok itu selalu berusaha untuk mencapainya karena pencapaiannya
sangat memberi makna kepada diri serta seluruh hidupnya. Norma adalah aturan
atau kaidah dan perilaku dan tindakan manusia
ETIKA:
• Sebagai cabang filsafat, Etika
sangat menekankan pendekatan yang kritis dalam melihat dan menggumuli nilai dan
norma moral tersebut serta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kaitan
dengan nilai dan norma-norma itu.
• Etika adalah sebuah refleksi kritis
dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya
dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai
kelompok
Sedangkan etika justru
mempersoalkan:
“Apakah saya harus melangkah dengan cara itu” ?
Etika memang pada akhirnya menghimbau orang untuk bertindak sesuai
dengan moralitas, tetapi bukan karena tindakan itu diperintahkan oleh moralitas
(nenek moyang, orang tua, guru), melainkan karena ia sendiri tahu bahwa hal itu
memang baik baginya. Sadar secara kritis dan rasional bahwa ia memang sudah
sepantasnya bertindak seperti itu.Etika berusaha menggugah kesadaran manusia
untuk bertindak secara otonom dan bukan heteronom.Etika bermaksud
membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan
karena setiap tindakannya selalu lahir dari keputusan pribadi yang bebas dengan
selalu bersedia untuk mempertanggungjawabkan tindakannya itu karena memang ada
alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat mengapa ia bertindak
begitu atau begini.
• Etika
Deskriptif; Berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan pola
prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai
sesuatu yang bernilai. Etika Deskriptif berbicara mengenai fakta apa adanya,
yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait
dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia berbicara mengenai
kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu masyarakat, tentang
sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang kondisi-kondisi yang
memungkinkan manusia bertindak secara etis.
a. Moral Secara Umum
#
Moral adalah Norma (biasanya
dirumuskan dalam bentuk perintah dan
larangan ) untuk menata sikap bathin dan perilaku
lahiriah.
# Moral dibagi menjadi dua: Moral filosofis
dan moral teologis.
# Moral filosofis didasarkan pada
penalaran akal budi dan pengamatan. Mis: moral pancasila.
# Moral teologis didasarkan pada
wahyu atau kitab suci yang ditafsirkan oleh otoritas intansi agama ybs
1. Etika
Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk
dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika
bersifat kritis dan metodis.
2.Etika
Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral
seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma,
dsb.
3. Etika Deskriptif; Berusaha meneropong
secara kritis dan rasional sikap dan pola prilaku manusia dan apa yang dikejar
oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai.
• Etika Deskriptif berbicara mengenai
fakta apa adanya, yaitu mengenai nilai dan pola perilaku manusia sebagai suatu
fakta yang terkait dengan situasi dan realitas konkrit yang membudaya. Ia
berbicara mengenai kenyataan penghayatan nilai, tanpa menilai, dalam suatu
masyarakat, tentang sikap orang dalam menghadapi hidup ini, dan tentang
kondisi-kondisi yang memungkinkan manusia bertindak secara etis.
Ciri-ciri Etika Profesi:
•
Adanya
pengetahuan khusus,
Biasanya
keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan
pengalaman yang bertahun-tahun.
•
Adanya
kaidah dan standar moral yang sangat tinggi.
Hal
ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik
profesi.
•
Mengabdi
pada kepentingan masyarakat,
artinya
setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah
kepentingan masyarakat.
•
Ada
izin khusus untuk menjalankan suatu profesi.
Setiap
profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai
kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya,
maka untukmenjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
•
Menjadi
anggota dari suatu profesi.
Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok
tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di
tempat kerja.
Tujuan Kode Etik:
1. Untuk menjunjung tinggi martabat
profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara
kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian
para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu
organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas
keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional
yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya
sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)

















